Postingan

People come and go.

Ya seperti pada judul diatas, gue mau mengeluarkan unek-unek yang sudah terlalu lama gue pendam sendiri karena tidak ada tempat untuk mencurahkannnya. Bukannya tidak ada ada sih, lebih ke tidak tepat untuk dicurahkan ke seseorang. So, ya disinilah satu-satunya gue mencurahkan unek-unek yang gue pendam itu. Tidak semua orang bisa dipercaya. Tidak semua orang bisa dianggap baik. Tidak semua orang bisa setia. Tidak semua orang bisa menerima dengan baik. Tidak semua orang bisa sepemikiran. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Mereka hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar. Mereka hanya merasakan apa yang ingin mereka rasakan. Itulah dunia yang gue rasakan, dimana semuanya terasa asing, berbeda dan entah itu hanya sugesti atau apapun itu. Semuanya terasa berat. Berat karena mungkin gue terlalu lemah atau memang semua ini berat seperti yang gue rasakan. Entalah. Yang pasti apapun yang gue rasakan orang lain belum tentu merasakan atau mungkin lebih merasakan yang...

Jangan Sombong

Jadi hari ini ceritanya jadwal kuliah gue kosong tapi karena ada satu mata kuliah yang harus diganti, dosen gue mintalah hari ini sebagai penganti mata kuliah tersebut. Yang harusnya hari ini bisa leha-leha dirumah jadi harus segera ke kampus pagi-pagi. Dikarenakan gue anak yang sedikit rajin jadilah gue datang 5 menit lebih lambat dari yang dijadwalkan. Udah buru-buru nih ceritanya … setiba di kampus malah anak-anak kelas gue pada nongkrong didepan kelas. Alhasil kami semua menunggu di kelas (tepatnya di luar) sampai satu jam lebih dari yang telah dijadwalkan sebelumnya. Tiba-tiba salah satu temen gue datang dan ngomong dengan santai ‘ sepertinya dosen kita nggak datang lagi hari ini, kira-kira mau diganti hari apa lagi kawan?’ seketika dia ngomong gitu rasanya badan gue lemas ditempat. Berkali-kali keadaannya seperti itu, semester lalu sempat juga begitu dengan mata kuliah yang berbeda. Pernah satu kali dosennya bilang ‘ maaf ya, saya lupa kalau hari ini kita kuliah. tolong carikan ...

Dream

Jas putih yang selalu aku lihat setiap pergi ke rumah sakit ataupun klinik prakter dokter. Ya, dokter. Sedari kecil dulu, aku hidup dilingkungan rumah sakit. Bukan karena aku berhubungan dengan penyakit dan bukan karena aku dari keluarga dokter. Hanya saja, ibu bekerja dirumah sakit sebagai seorang apoteker. Jelas bahwa sejak kecil aku sudah terbiasa dengan bau-bau rumah sakit, suasana rumah sakit, peralatan rumah sakit, perawat, penyakit, obat-obat, pasien, dan dokter. Dari kecil bahkan aku sudah mengenal bermacam-macam jenis obat, manfaat beberapa obat, dan ikut mendiagnosa penyakit seperti yang dilakukan seorang dokter. Di rumah sakit, para dokter dengan ramah mengajarkan beberapa hal dasar tentang kesehatan dan penyakit kepadaku. Ya meskipun yang aku mengerti dari 1 - 10 paling hanya 4 - 5 saja. Hahaha wajar ya pada saat itu umurku masih sangat kecil. Meskipun ibu atau ayahku bukan seorang dokter, tapi dari kecil aku dikenalkan dengan semua yang berbau medis, baik itu obat, alat...

Aku Menyesal

Aku merasakan kegagalan lagi ... Ya, baru beberapa minggu yang lalu ujian selesai aku hadapi. Dan akan datang pembagian hasil dari ujian itu bukan? Beberapa hari yang lalu hasil dari proses belajar untuk semester 5 dibagian kepadapara wali murid dikelasku. Yang datang menjemputnya adalah IBU. Dan perasaan khawatir, cemas, takut apapun itulah mulai bertempur dibenakku. Hahaha, jantungku berdebar - debar. Aku sudah menduga - duga bahwa hasilnya takkan memuaskan. Tapi paling tidak aku berharap kalau hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Aku berusaha tenang setenang tenang mungkin. berusaha untuk terus tertawa bersama teman - teman yang lain. Tidak mungkin aku menampakan rasa cemas ini, haha yang mereka tau seorang AMI cemas? bukan! Bukan ami namanya kalau ia cemas. Tapi tidak pada hari itu. Biasanya namaku terpanggil masih di deretan 10, tapi setelah lewat dari deret 11 aku semakin cemas. Kenapa tidak terpanggil juga. Jantungku semakin bergoncang. Ya Allah, apa yang aku takutkan akan terja...

Semangat

Hi :) Reader.. sometime aku pernah di kasih nasihat gini. Jangan pernah mundur sebelum mencoba Ini adalah nasehat yang selalu aku dapatkan disaat aku curhat atau mengalami suatu masalah dalam suatu proses. Aku gatau kenapa, setiap orang dewasa yang menyemangati aku untuk tidak cepat berputus asa mereka selalu mencoba menasehati aku dengan kalimat diatas. Dan ajaibnya aku selalu terhipnotis atau tersugesti untuk lebih bersemangat. ada satu kalimat yang sampai sekarang masih tergiang ditelingaku dan jika aku mengucapkannya akan muncul bayangan atau kenangan masa lalu yang membuat aku menangis dan langsung bangkit dari keterpurukan itu. Era et laborra  Itu kalimat yang diucapkan oleh motivator pertama yang mampu menghipnotis aku sampai sekarang. jika tanpa beliau mungkin aku tidak akan sampai seperti sekarang. Dulu beliau menyemangatiku pada saat2 yang bener2 bikin aku down bahkan ingin berhenti ditengah jalan. beliau datang dan berbicara kepadaku bahwa Tidak akan sukses ses...

Cinta Dibawa Mati

Perlahan aku langkahkan kaki menuju rumah itu, tapi sungguh hati ini sangat takut. Tak terasa aku sudah berada di depan pagar rumah itu, ‘oh tuhan, bantu aku’ batin ku sendiri. Ragu – ragu aku untuk memasuki perkarangan rumah itu. Tapi keberadaanku dirasakan oleh satpam di rumah itu, satpam itu mendekat. ‘ ya tuhan, bagaimana ini apa sebaiknya aku pulang atau meneruskan tujuanku ke rumah ini’ batinku lagi. “maaf neng, ada perlu apa ? bisa saya membantu ?” Tanya satpam itu dengan ramahnya. “ eh .. iya .. emm ..” aku termenung seketika memikirkan sesuatu. “ maaf  neng, neng sedang cari siapa ?” Tanya satpam itu lagi membangunkan diriku dari lamunan itu. “oh .. saya ingin bertemu dengan Haby. Habynya ada pak ?” Tanyaku tanpa ragu. Tak ku sangka aku berani menanyakan dia kepada satpam ini. “waduuh neng, den Haby lagi privat. Jadi gak bisa diganggu. Maaf ya.” Jawab satpam itu. “yasudah. Terimakasih y pak. Oh ya, jangan bilang ke dia kalo ada yang cariin ya.” Pesanku “baik neng J ” dan...

Seperti Dia

          Di sekolah, sehari sebelum mengumpulkan cerpen itu ia masih berfikir-fikir lagi. Apa yang harus ia lakukan agar cerpen itu tetap terkumpul, dengan harapan  teman-temannya tidak meledeki cerpennya itu. Tetapi fikirannya tidak positif , ia hanya memikirkan kalau cerpen itu tidak sesuai dengan harapannya. Akhirnya  pada hari ketiga ia tidak mengumpulkan cerpen itu karena takut akan diledeki lagi oleh teman-temannya.           “Violet, kenapa tidak kamu kumpulkan cerpen yang Ibu tugaskan ?” tanya guru sastra itu           Vio hanya menunduk diam dan takut. Sambil terbata-bata ia berkata pada guru sastra itu. “Maaf Ibu. Vio tidak bermaksud untuk itu Bu, “           “Sudahlah, kamu akan Ibu masukan kedalam kasus kelas ini. Ibu tak menyangka seorang murid berprestasi sepertimu mampu melan...