Aku Menyesal

Aku merasakan kegagalan lagi ...

Ya, baru beberapa minggu yang lalu ujian selesai aku hadapi. Dan akan datang pembagian hasil dari ujian itu bukan? Beberapa hari yang lalu hasil dari proses belajar untuk semester 5 dibagian kepadapara wali murid dikelasku. Yang datang menjemputnya adalah IBU. Dan perasaan khawatir, cemas, takut apapun itulah mulai bertempur dibenakku. Hahaha, jantungku berdebar - debar. Aku sudah menduga - duga bahwa hasilnya takkan memuaskan. Tapi paling tidak aku berharap kalau hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Aku berusaha tenang setenang tenang mungkin. berusaha untuk terus tertawa bersama teman - teman yang lain. Tidak mungkin aku menampakan rasa cemas ini, haha yang mereka tau seorang AMI cemas? bukan! Bukan ami namanya kalau ia cemas. Tapi tidak pada hari itu.

Biasanya namaku terpanggil masih di deretan 10, tapi setelah lewat dari deret 11 aku semakin cemas. Kenapa tidak terpanggil juga. Jantungku semakin bergoncang. Ya Allah, apa yang aku takutkan akan terjadi ? Jika namaku lewat dideretan 15 matilah aku. Pasti disemprot habis habisan dirumah. Tapi bukan itu yang aku takutkan atau aku cemaskan. Hasil yang aku dapat ini akan mempengaruhi segalanya. terlebih lagi aku yang sedang punya masalah. Aku melihat ibu yang juga cemas menunggu. Sampai lewat dari deret 20 aku tak kunjung dipanggil. Aku melihat ibu, mata nya sudah berlinangi air mata, Ya Allah, benar prediksi ku, diluar deret 20 aku baru dipanggil. Dan ibu menangis didepan walikelasku. Jujur aku ingin marah, ingin menangis ingin ... AHH! ini semua karena kelalaianku.

Ibu keluar dengan mata yang basah dan merah, pergi meninggalkan aku. Aku terduduk diluar kelas. Ingin menangis ? Tidak akan! ingin marah? Apalagi, apagunanya? ini semua kesalahanku, dan sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Apapun yang aku aku lakukan tidak akan merubah hasil yang sudah terjadi. Tapi melihat ibu menangis dan sudah membuat hatinya sakit karena perbuatan aku ini, aku merasa sangat bersalah. Namun, parahnya aku, karena tidak ingin terlihat kesal,kecewa atau apapun itu aku malah bersikap tidak peduli dengan hasil tsb dan ibu yang menangis. Aku kalut :( aku salah tingkah dan aku akui AKU MENYESAL


Kenapa ibu begitu kecewa? semester sebelumnya aku berada di deret ke 10, dan sebelumnya di semester perrtama aku meraih peringkat kedua. disana letak kecewanya ibu, ibu selalu berharap aku bisa meraih peringkat lagi. tapi aku tak pernah mendapatkannya lagi. Ini juga salahku yangterlalu santai, lalai, bahkan bersikap masa bodo sama semua yang terjadi sebelumnya. Aku tau aku salah! Aku tau ini sudah kelewat batas. Tapi apa yang mesti aku lakukan lagi untuk kedepannya? Semangatku semakin hilang, sifat moody ku semakin menjadi - jadi :(

Yang pasti, untuk kedepan nanti aku akan BERUSAHA, aku harus BERUBAH. Entah apa yang akan aku lakukan agar hati ibu dan ayah dapat terobati. Semoga Allah masih membukakan jalannya untukku dan masa depanku O:)

Komentar