Dream
Jas putih yang
selalu aku lihat setiap pergi ke rumah sakit ataupun klinik prakter dokter. Ya,
dokter. Sedari kecil dulu, aku hidup dilingkungan rumah sakit. Bukan karena aku
berhubungan dengan penyakit dan bukan karena aku dari keluarga dokter. Hanya saja,
ibu bekerja dirumah sakit sebagai seorang apoteker. Jelas bahwa sejak kecil aku
sudah terbiasa dengan bau-bau rumah sakit, suasana rumah sakit, peralatan rumah
sakit, perawat, penyakit, obat-obat, pasien, dan dokter. Dari kecil bahkan aku
sudah mengenal bermacam-macam jenis obat, manfaat beberapa obat, dan ikut
mendiagnosa penyakit seperti yang dilakukan seorang dokter. Di rumah sakit,
para dokter dengan ramah mengajarkan beberapa hal dasar tentang kesehatan dan
penyakit kepadaku. Ya meskipun yang aku mengerti dari 1 - 10 paling hanya 4 - 5
saja. Hahaha wajar ya pada saat itu umurku masih sangat kecil. Meskipun ibu
atau ayahku bukan seorang dokter, tapi dari kecil aku dikenalkan dengan semua
yang berbau medis, baik itu obat, alat-alat medis dan semacamnya.
Waktu kecil dulu
sebelum aku masuk sekolah, aku sempat ditanyai ' ingin jadi apa nanti kalau
sudah besar? ' pertanyaan pertama yang aku dengar di dalam ruangan obat, waktu
itu ibu sedang mengambil beberapa obat untuk diracik. Ya secara spontan aku
menjawab ' mau jadi dokter ' hahahaha dengan entengnya aku menyebut demikian.
Pertanyaan selanjutnya ' kenapa mau jadi dokter? ' pertanyaan ini yang mungkin
aku sedikit berpikir untuk menjawabnya. ' biar nanti bisa ngobatin pasien ' aku
hanya menemukan satu jawaban saja. Tapi orang yang menanyaiku tadi hanya
tersenyum dan sedikit tertawa sambil berkata ' aamiin ' ya menurutku (pada saat
itu) dialog kami hanya untuk candaan. Tapi setelah umurku semakin bertambah,
aku malah selalu memikirkan hal itu.
Seiring berjalan
waktu, aku terus diajakan mengenai medis. Yang tadinya hanya mengenal
obat-obatan sekarang aku tau sedikit cara meraciknya, guna obatnya. Yang
tadinya hanya tau nama alat-alat medis, sekarang aku tau bagaimana
penggunaannya dan kepada kondisi apa digunakan. Yang tadinya aku hanya terpana
melihat orang kesakitan, sekarang aku sedikit lebih bisa menganalisis penyakit
yang diderita pasien. Setelah aku masuk SD, waktu kelas 5 menjelang kenaikan
kelas 6 aku mulai tertarik dengan pelajaran biologi tapi hanya bagian manusia
saja. Setelah naik ke kelas 6 SD, kebetulan aku sekolah di sekolah swasta yang
fasilitasnya sedikit lebih memadai daripada sekolah lainnya, aku lebih bisa
mendalami pelajaran biologi, lebih dan semakin menyukai pelajaran tersebut.
Kebetulan wali kelasku adalah seorang guru IPA dan beliau lebih dominan ke ilmu
biologi, beliau selalu menyemangatiku. Aku sering cerita kepada beliau mengenai
ketertarikanku kepada ilmu medis dan biologi. Aku bahkan mengungkapkan kepada
beliau kalau kelak aku akan jadi seorang dokter. Beliau pernah berkata ' era et
laborra ' yang artinya usaha dan doa harus sejalan, disetiap aku jatuh,
menyerah, dan lelah beliau selalu mengingatkanku akan hal tersebut. Kalau kita
punya niat semuanya akan terwujud. Selain itu di yayasan tempat aku bersekolah
punya semboyan 'harus bisa' yang dipajang di depan pintu gerbang masuk dan
keluar. Jadi setiap pagi saat datang dan ketika pulang siangnya aku selalu
melihat dan membaca semboyan itu. Yang sampai sekarang aku nggak pernah lupa
sedikitpun. Sudah hampir 8 tahun aku meninggalkan sekolah itu, tulisan didepan
gerbang tetap sama dan tidak berubah sedikitpun.
Sejak masuk SMP, aku
semakin tertarik dengan biologi dan medis. Bahkan setiap ke rumah sakit aku
sering membaca buku tentang obat, penyakit dan semacamnya. Semenjak itu aku
ingin menjadi seorang dokter bedah. Tapi semakin aku bertekad semakin
digoyahkan dengan lingkunganku. Beberapa teman, bahkan guru meragukan dan
meremehkannya. Sebagian teman-temanku bilang 'laah, kan dokter cita-cita sejuta
umat' 'cari dong cita-cita yang lebih realisitis' 'yakin mau jadi dokter? Haha'
dan semacamnya. Sempat goyah, tapi aku ingat setiap yang dikatakan wali kelas
waktu di SD dulu. Karena saking terobsesinya dengan DOKTER, disekolah nilai
akademisku selalu diatas rata-rata bahkan sempurna tapi hanya dibidang ipa pada
waktu itu terutama biologi.
Saat masuk SMA, aku
lebih menguatkan lagi tekadku untuk menggapai cita-cita tersebut. Aku belajar
sekuat yang aku bisa, agar nilai akademisku bisa memenuhi syarat lulus undangan
di fakultas kedokteran. Disaat proses itu berjalan, banyaaaaaak sekali rintangan
yang aku hadapi, baik itu cemooh, celaan dari teman-teman, guru bahkan
keluargaku sendiri mulai menggoyahkan. Saat duduk dibangku kelas 12 (kelas 3
SMA) dimana saat kritis di masa itu. Masa-masa harus memilih jurusan yang
diinginkan untuk jalur SNMPTN, konsultasi kesana kemari, terutama konsultasi ke
guru BK. Nah, pada saat inilah puncaknya. Beliau bilang ' ngga ada jurusan lain
selain kedokteran? Kenapa harus kedokteran, mending cari pilihan lain' DEMIIIII
APAPUUUUUN aku sakit sesakit sakitnya, secara tidak langsung beliau ngomong
kalau aku ngga pantas jadi dokter ( entah aku yang terlalu sensitif waktu itu).
Dirumah, ayah juga bilang begitu. ' coba cari pilihan lain kalau nanti ngga
bisa jadi dokter' rasanya dunia ini runtuh saat kita sudah mati-matian
membangun dari bawah tekad yang ada agar bisa terealisasikan tapi malah nggak
ada yang mendukung. Disaat itulah kau jatuh se jatuh jatuhnya karena nggak ada
yang menopang aku untuk bisa bertahan.
Aku benar-benar
putus asa, pesimis, minder, dan semua yang negatif-negatif lah. Aku lebih
sering nangis, lebih sering murung, sifat-sifat jelek bermunculan. Semuanya
benar-benar seperti sedang memberontak. Yaah, pada akhirnya aku gagal masuk PTN
dengan jurusan kedokteran. Baik itu SNMPTN bahkan SBMPTN. Keluargaku sangat
tidak open dengan universitas swasta karena berbagai alasan. Akhirnya aku
memutuskan untuk jalur mandiri jurusan ekonomi. Mereka berkata, semua orang
ngomong ke aku kalau ini udah jalanku. Ini udah yang terbaik untukku. Tapi
TIDAK sama sekali untukku. Bagiku, ini hukuman. Hukuman dari keputusasaan yang
dulu aku rasakan, harusnya aku nggak cepat lemah.
Bagaimanapun, aku
harus menjalani ini semua. Aku masih berharap dan terus berharap dan nggak akan
pernah berhenti berharap. Kalau mimpi dari kanak-kanak dulu bisa jadi realita
di kehidupanku. Aku ingin menunjukan kepada mereka kalau aku bisa, aku mampu membuat
mimpi seorang bocah menjadi kenyataan, mimpi sejuta umat menjadi kenyataan di
hidupku.
Komentar
Posting Komentar