Seperti Dia
Di sekolah, sehari
sebelum mengumpulkan cerpen itu ia masih berfikir-fikir lagi. Apa yang harus ia
lakukan agar cerpen itu tetap terkumpul, dengan harapan teman-temannya tidak meledeki cerpennya itu.
Tetapi fikirannya tidak positif , ia hanya memikirkan kalau cerpen itu tidak
sesuai dengan harapannya. Akhirnya pada
hari ketiga ia tidak mengumpulkan cerpen itu karena takut akan diledeki lagi
oleh teman-temannya.
“Violet, kenapa tidak
kamu kumpulkan cerpen yang Ibu tugaskan ?” tanya guru sastra itu
Vio hanya menunduk
diam dan takut. Sambil terbata-bata ia berkata pada guru sastra itu. “Maaf Ibu.
Vio tidak bermaksud untuk itu Bu, “
“Sudahlah, kamu akan
Ibu masukan kedalam kasus kelas ini. Ibu tak menyangka seorang murid
berprestasi sepertimu mampu melanggar peraturan ibu.” bentak guru sastra tadi.
Akhirnya Vio menyesal tidak mengumpulkan cerpennya. Padahal itu satu-satunya
cara agar ia bisa menyalurkan hobinya dan menjadi seorang penulis yang handal. Tapi
biarlah, cerpen itu tidak layak untuk dibaca oleh siapapun, karena tidak ada
yang menarik didalamnya. Katanya dalam hati.
“KRIIIIING….KRIIING”
bunyi bel tanda waktu istirahat. Semua murid keluar kelas. Hanya Vio sendiri
yang berada didalam kelas itu. Saat itu ia hanya memegangi buku notes ungu
miliknya. Notes itu banyak ia miliki di rumahnya. Ia tergolong seorang yang
kaya. Serba berkecukupan. Hanya saja orang tuanya tidak pernah bersamanya.
Untuk bertemu saja susah. Karena orang tuanya sangat sibuk.
Tiba-tiba ia teringat
bahwa hari ini akan ada pelajaran melukis. Tadi pagi kuas kecilnya dipatahkan
oleh Sinta dan teman-temannya. “Lebih baik aku beli saja di koperasi sekolah.”
Katanya sambil beranjak dari bangkunya.
Baru saja ia membuka
pintu kelasnya, “Bruuuk !!!” Vio dan seorang laki-laki jatuh. Vio tak mengenali
siapa laki-laki itu. Setahunya itu bukan murid di kelasnya. Ternyata itu murid
kelas12. “M…maaf, a…aku tidak sengaja” Vio minta maaf pada laki-laki itu.
“Iyaa, tidak apa-apa.
“ Laki-laki itu menjawabnya dengan
santai. Namanya Fikri. Cowok yang simple, baik dan ramah. Fikri membantu Violet
berdiri dan permisi untuk ke kelasnya.
Vio melanjutkan
tujuannya untuk ke koperasi sekolah. Ia mencari kuas kecil untuk latihan
melukisnya nanti. Setelah bertemu dengan kuas yang ia cari, Vio kembali ke
kelasnya. Ternyata di depan pintu kelas berdiri Sinta dan gengnya. Mereka
berdiri sambil menghalangi pintu masuk ke kelas itu. Vio berusaha untuk minta
izin masuk ke kelas. Tetapi Sinta tidak memperbolehkannya. “Sin, permisi aku
mau masuk.” pinta Vio lemah lembut.
“Mau ngapain lo di dalam ?” bentak Sinta. “Aku
mau nulis Sin,” jawab Vio. “Lo ngak
boleh masuk, ngerti ?” bentak Sinta lagi. Tidak lama kemudian, guru Lukis
datang dan menyuruh mereka masuk. Vio sungguh beruntung karena masih ada guru
lukis yang menyuruh anak-anak tadi untuk masuk.
Di dalam kelas, guru lukis meminta seluruh
siswa untuk melukis sesuatu yang paling mengesankan. Vio, selain pandai menulis
, ia juga pandai melukis. Pada saat itu terfikirkan olehnya sebuah benda yang
mengesan, yakni Notes ungunya yang pertama. Notes itu diberikan oleh kakaknya yang telah meninggal 2
tahun yang lalu.
Setelah selesai melukis notes itu. Vio memberikan
hasil lukisannya kepada guru. Ternyata
hasil yang diberikan oleh guru lukis
adalah nilai sempurna. Vio kembali menjadi no.1 dikelasnya. Sinta , yang
sebelumnya adalah pemegang nilai itu
sekarang turun dibawah Vio. Ia sangat marah Vio
merebut nilainya.
Di rumah, Vio kembali menulis sebuah cerpen. Ia
sekarang tidak lagi minder. Karena ia di dukung oleh kakaknya yang seorang
penulis juga. “ Vio, berusahalah. Yakin kalo sesuatu yang kamu buat pasti akan ada
hasilnya. Biar itu sempurna atau tidak yang penting kamu telah berani
menunjukan bahwa kamu bisa. Jangan takut untuk kena cemooh org lain, anggap mereka
syirik padamu,” Pesan kakaknya yang kemaren baru datang dari bandung.
“Baiklah Kak, aku akan berusaha untuk tetap bisa
mangejar impianku” semangatnya. Kini ia berlari kecil menuju kamarnya melanjutkan
cerpen yang ia buat kemaren. Ia memperbaiki hal-hal yang menurutnya kurang.
Setelah beberapa menit mungkin hampir 1
jam ia mengoreksi kembali cerpennya itu, tiba-tiba pintu kamarnya di
ketok-ketok oleh seseorang. “ Siapa yaa?” tanyanya sendiri.
“Vio, ini ada teman kamu” panggil kakaknya dari
luar. Vio kaget, ‘teman’ ? siapa temanku ? tanya dalam hati. Selama ini ia
tidak mempunyai teman yang akrab apalagi untuk teman berkunjung seperti ini. Ia
memutuskan untuk menghentikan tugasnya dan keluar menemui teman misterius itu.
Tersentak kaget, Vio terkejut yang datang
ternyata Sinta, orang yang paling membencinya di sekolah. “ Akhirnya keluar
juga kamu,” ucap Sinta agak sinis. “ Maaf Sin, hmm… lebih baik kita berbicara
di taman belakang,” ajak Vio ke taman belakang rumahnya, tepat di dekat kolam
renangnya.
“ Tumben kamu kesini . Mau ngapain ?”,tanya Vio
serius.
“ hoo, tidak ada apa-apa, gue cuma mau
ingetin, cerpen – cerpen yang elo buat
gak ada artinya sama sekali, jadi gue harap jangan sekali-kali loe berikan ke
orang-orang untuk dibaca. Ingeet ! kalo loe tetap gak mau denger ucapan gue,
liat aja ntar apa akibatnya.” Bentak Sinta mengancam.
“ Tapi Sin, itu hak aku untuk menyalurkan
sebagian hobi yang aku punya. Bukan tugas kamu buat larang-larang aku untuk
buat cerpen dan yang menyebarkan untuk dibaca orang, “ bantah Vio.
“ oh, jadi loe udah mau bantah gue ? oke. Liat
aja besok akibat yang bakal lo terima,”
ancam Sinta lebih tegas lagi.
“ Sin, bukan maksud aku buat bantah kamu .
tapi…” Langung dibantah lagi oleh Sinta. “ Terserah lo. Liat aja besok. Huuh,
oke gue pulang dulu, Ene’ lama-lama di sini” kata sinta berdiri dan pergi dari
rumah Vio.
Di sekolah,Vio telah bersiap untuk menerima ancaman itu. Hatinya berdebar
– debar. Apa yang akan dilakukan sinta
selanjutnya. Tiba - tiba Vio menabrak seseorang. Tenyata orang itu orang yang
sama dengan waktu ia akan ke koperasi sekolah kemaren. Kak
Fikri, dia benar - benar cowok yang aneh, misterius. Tapi biarlah itu pun bukan
urusannya. “Maaf kak, aku tak sengaja ,“ pinta Vio. “Kamu lagi ternyata. Iyaa
tak apa-apa” jawab Fikri santai.
Di kelas, sinta sudah menyiapkan kejutan untuk
Vio. Ia meletakan cairan cat di bangku Vio. Saat Vio mau duduk, ia hanya lengah
dan menganggap semua baik - baik saja. Keberuntungan sedang di pihak Vio, ia
tahu kalau di bangku
ada cairan, jelas saja ada cairan karena warnanya jauh berbeda. Ia mengambil tissue
dan menghapusnya, kemudian duduk.
Hari ini hari Sabtu, hari ekskul (murid - murid lain menyebutnya) hari yang
sangat menyenangkan bagi Vio. Di semester ini ia berencana akan ikut ekskul Sastra
Indonesia. Ia ingin mengembangkan bakat tulisnya. Waktu pendaftaran ekskul
dimulai. Salah satupanitia eskul sastra Indonesia ternyata kak Fikri. Vio
kaget, ternyata anak kelas 12 yang misterius ini
memiliki bakat yang sama denganya. “ Baik, sebutkan nama, kelas, tujuanmu oke,”
pinta Fikri untuk memulainya. “ Baik kak, Nama Citra Violet, kelas 11
E , tujuannya saya ingin mengembangkan hobi saya yakni menulis cerpen.” Lemah
lembut ia menyebutkannya.
“Baiklah, kamu bole masuk, persiapkan segala halnya
oke ?” kata Fikri. “ Baik kak” jawab Vio. Kemudian ia masuk dan memilih duduk
di sebelah kanan tepat dengan meja pembimbingnya. Setelah mempersiapkan segala
sesuatu yang dibutuhkan, saat itu pula kakak” pemimbing datang untuk memulai ekskul
hari itu.
Salah seorang dari pemimbing ekskul itu
menyuruh untuk membuat sebuah karya sastra, tujuannya untuk melihat mana
siswa-siswi yang sudah ahli atau belum. Saat itu pula Vio memberikan cerpen
hasil karyanya. Cerpen yang sudah Vio buat cukup banyak. Salah satunya ia
berikan kepada pemimbing ekskul itu. Dalam kelas ini juga dibagi beberapa
kelompok yang berbeda pemimbingnya. Kakak pemimbing Vio, kak Fikri. Cowok yang
akhir-akhir ini sering bertemu dengannya.
“Kak, ini punya saya. “ sambil memberikan
cerpen miliknya.
“Cepat sekali kamu membuatnya ? apa benar kamu
yang buat ? saya suruh karya sendiri bukan karya orang lain. Mengerti ?” tegas
Fikri.
“Tapi kak, ini saya yang bikin …” bantah Vio.
“Saya tidak percaya, kalo memang kamu tidak
bisa buat apa-apa bilang dari tadi. Biar saya bantu kamu. Ini tidak, malah
mencontoh hasiil orang lain. Itu plagiat namanya. Ngerti !!!” bentak Fikri.
Vio sedih, karena karyanya sendiri dibilang
karya oranglain. Padahal ini sudah susah-susah ia buat tadi malam. Baiklah aku
gak mau di bilang plagiat, aku akan buktiin kalo aku bisa mencipta karya
sendiri, ucapnya dalm hati. Dengan serius, tekun ia kerjakan. Memang singkat
tetapi hasilnya cukup menarik. Setelah selesai, Vio memberikan cerpen itu
kepada Fikri.
“Kak, ini punya saya. Saya sendiri yang
membuatnya. Saya bukan seorang plagiat kak,” tegas Vio kepada Fikri. Kemudian
Fikri membaca cerpen itu. Setelah beberapa saat ia membacanya. Ia kagum, cerpen
ini hampir sempurna. Ia menghampiri Vio dan berkata “ bagus, ini benar karya
kamu ?” Tanya Fikri pada Vio. “ Ia kak, saya yang bikinnya sendiri,” jawab Vio.
“Baiklah, cerpen kamu sangat bagus. Lebih rajinlah
berlatih saya akan membimbing kamu sampai tujuanmu tadi tercapai.” Fikri memberi
semangat kepada Vio. Tetapi Vio ingat kata-kata Sinta di rumahnya kemarin sore.
Ia takut kalau nanti sinta akan memberikan ancamannya yang lebih berat.
Besoknya di sekolah, Sinta
dan kawan-kawannya mengerjai Vio habis - habisan sampai Vio menangis sendiri di
sudut kelas. Ia menyesal memberikan cerpennya itu kepada Fikri.” Aku gak tau
harus berbuat apa lagi agar cerpen ku itu bisa dibaca orang banyak tetapi aku
tidak diiremehkan lagi oleh Sinta” Vio menangis sedih.
Di luar kelasnya, Fikri
mencari cari Vio. Ia lupa Vio itu di kelas mana. “ Dik, lu tau ngak Vio itu
kelas berapa ?” tanyanya kepada Dika.
“Yee, mana gw tau.
Kan elu yang panitia. Kenapa gak lu nanya
ke dia ?” jawab Dika.
“ oke… biar gue cek
aja ke kelas – kelas, ntar jugak ketemu. “ Fikri terus berusaha mencari Vio.
Tepat di kelas 11 E Fikri berhenti dan
membuka pintu kelas itu, tapi tiba tiba “KRIIIING …. KRIIING ..” lonceng
berbunyi tanda waktu istirahat habis. Pencariannya hari itu berhenti begitu
saja. Padahal sedikit lagi ia akan bertemu dengan Vio.
Di kelas Vio
menghapus air matanya dan bangun, ia berusaha
untuk tetap tegar dan menganggap bahwa semuanya baik baik saja. Sekitar 2 jam,
lonceng istirahat kedua terdengar kembali. Vio takut Sinta akan mengerjainya
lagi. Buru buru Vio keluar kelas dan tiba-tiba di depannya berdiri Fikri dan Dika
.
“Permisi, disini ada Violet ?” Tanya Fikri
“Iya, saya Violet. Ada perlu apa ya ?” Vio
tidak ingat kalau itu Fikri, pemimbing ekskulnya. “saya ingin bicara denganmu,
bisa ?” pinta Fikri. “Hmm. Tentu tapi kita bicara di luar saja,” ajak Vio.
Mereka bertiga keluar menuju taman sekolah. Fikri menanyakan semua tentang Vio
yang hobi menulis itu. Fikri bersedia membantu Vio untuk mewujudkan
cita-citanya, “ kamu jangan takut Vio, saya akan membantu kamu dan menjaga kamu
dari ancaman Sinta dan gengnya. “ ucap Fikri menyemangati Vio.
Sejak saat itu, Vio semakin bersemangat untuk
mewujudkan cita-citanya. Fikri pun menepati janjinya untuk menjaga Vio dari
ancaman Sinta. Semakin hari, nasib cerpen Vio semakin membaik. Guru-guru pun
sudah mulai mengagumi cerpen miliknya, begitu juga dengan teman-teman Vio.
Semakin hari semakin membaik. Vio senang dengan kehadiran Fikri di sampingnya,
kehadiran Fikri bagaikan seorang malaikat penolong yang membantunya mewujudkan
mimpinya yang selama ini dipendamnya seorang diri.
Sejak saat itu pula Fikri membantu Vio
menerbitkan cerpen miliknya itu ke sebuah penerbit, menampilkan hasil cerpennya
itu ke majalah-majalah remaja dan Vio berhasil mewujudkan cita-citanya. “ kak,
makasih banyak yaa. Ini semua kerena bantuan Kakak juga. Akhirnya aku bisa
menjadi penulis handal seperti dia, penulis wanita yang hebat
menurutku.” Ucapnya pada Fikri pada suatu acara launching penerbitan cerpen
pertamanya dan dia juga diberi sebuah penghargaan sebagai penulis muda yg
handal.
“Haha, tidak juga, ini karena tekat dan usahamu
yang kuat. Dan kamu memang anak yang berbakat,” puji Fikri.
Fikri yang lulus dengan nilai terbaik dan
Violet yang berhasil menerbitkan cerpen-cerpennya. Sinta pun meminta maaf pada
Vio atas perlakuannya selama ini, dia mengakui bahwa sesungguhnya jika
memanglah bakat seseorg itu tidak dapat di halangi oleh siapapun.
Setahun kemudian, Vio pun lulus juga dengan
nilai terbaik dan masuk ke Universitas
favorit.
Di sana Violet dan Fikri bertemu kembali. Pertemanan mereka masih tetap berlanjut
dan semakin erat bagaikan sepasang saudara kandung. Memang, persahabatan itu
tidak bernilai harganya. Tidak ada yang bisa memisahkannya. Dan dengan tekad
serta usaha, semua akan terwujud sesuai yang diharapkan dan mungkin lebih dari
harapan.
Komentar
Posting Komentar