Perlahan aku
langkahkan kaki menuju rumah itu, tapi sungguh hati ini sangat takut. Tak
terasa aku sudah berada di depan pagar rumah itu, ‘oh tuhan, bantu aku’ batin ku sendiri. Ragu – ragu aku untuk
memasuki perkarangan rumah itu. Tapi keberadaanku dirasakan oleh satpam di
rumah itu, satpam itu mendekat. ‘ ya
tuhan, bagaimana ini apa sebaiknya aku pulang atau meneruskan tujuanku ke rumah
ini’ batinku lagi.“maaf neng,
ada perlu apa ? bisa saya membantu ?” Tanya satpam itu dengan ramahnya.“ eh .. iya
.. emm ..” aku termenung seketika memikirkan sesuatu. “ maaf neng, neng sedang cari siapa ?” Tanya satpam
itu lagi membangunkan diriku dari lamunan itu.“oh .. saya
ingin bertemu dengan Haby. Habynya ada pak ?” Tanyaku tanpa ragu. Tak ku sangka
aku berani menanyakan dia kepada satpam ini.“waduuh
neng, den Haby lagi privat. Jadi gak bisa diganggu. Maaf ya.” Jawab satpam itu.“yasudah.
Terimakasih y pak. Oh ya, jangan bilang ke dia kalo ada yang cariin ya.”
Pesanku“baik neng J” dan aku pun pulang. Ditengah perjalanan aku terus
memikirkan peristiwa di taman tadi, aku sungguh takut untuk bertemu lagi
dengannya. Aku terus berjalan menelusuri jalanan itu. Aku mulai lelah karena
daritadi hanya berjalan saja dan tak tau arah. Aku duduk di sebuah halte. “ huh
! mau kmana lagi ni ? “ aku termenung seketika mengingat peristiwa di taman
tadi. Dan terlintas di benakku, ‘ gmana
kalau aku cerita kejadian tadi ke Loni ? ‘ pikirku dalam hati.
Aku langsung
bangun dari duduk dan mencari taksi untuk ke tempat nongkrong Loni biasa. Di
Toko buku langganannya. Sekitar 20 menit taksi itu melaju aku turun di Toko
buku langganan Loni. Aku masuk dan melihat – lihat keberadaan Loni. ‘mana dia anak itu ?’ Tanya ku dalam
hati. Aku terus mencari dan sempat menanyakan kepada pramuniaga toko buku itu.
Mereka belum melihat Loni datang hari itu. Aku bingung harus cari kmana lagi,
ke rumah nya ? tapi aku tidak tau dmana rumah Loni. Salah satu pramuniaga itu
memberi ide “ bagaimana kalau kau telepon saja Loninya ?” usul salah satu
pramuniaga.Oh, betapa bodohnya aku sampai tidak
terpikirkan hal itu. Batinku sendiri. Langsung aku mengambil Hp dan
telepon Loni. “ hei Loni !” sapa ku. “ iyaa Lov,ada apa ?” tanyanya dari
sebrang sana.
“aku mau
bicara, bisa tidak kita bertemu hari ini ? aku sedang ada masalah besar Lon.”
Rintisku dari sini. “oh bisa – bisa, kamu dmana ? kita ketemu di toko buku
langganan aku aja ya ?” jawab Loni. “aku sudah berada di toko buku itu dari 15
menit yang lalu, Lon. Cepat saja kamu kesini, aku tunggu.” Desak ku pada Loni.
Dan selepas kami menelpon, Loni langsung tancap gas menuju toko buku
langganannya dengan mobil sedannya.Sekitar 10
menit iya berada di perjalanan, akhirnya Loni sampai di toko buku. “ Hei Lon,
cepat ya ? hehe” seruku pada Loni.“ya iya dong,
aku kan ontime trus. Week” cibirnya padaku. “ih, yadeh iya.
Ayo, kita bicara dimana ? gak mungkin kan ngomong di depan pintu toko buku.”
Mengajaknya.Kami pun
pergi menuju sebuah cafe di dekat
sana dan aku mulai menceritakan peristiwa ketika di taman tadi. “ jadi gini
Lon, tadi aku jalan sama Haby. Dia nanyain Cindy, kamu taukan kalau aku gak
suka sama sikap Cindy. Tapi Haby terus nanyain Cindy. Aku kesel dan aku bilang
semua kejelekan Cindy ke Haby. Eh ternyata Haby bilang kalau dia suka sama Cindy.
Haby langsung bilang kalau aku ngejelekin Cindy biar Haby gak suka lagi sama Cindy.”
Jelasku“jadi kamu
jelekin Cindy ke Haby ? kamu baru tau kalau Haby suka Cindy ?” Tanya Loni. Aku,
Haby, Loni dan Rayan sudah bersahabat hamper 3 tahun. Dan sebelumnya aku tidak
pernah lihat Haby menyukai seorang cewek pun.“iya lon,
kan gak pernah – pernahnya Haby naksir cewek. Tapi aku gak bermaksud bikin Haby
gak suka lagi ke Cindy. Aku Cuma gak mau temanku jadi bahan mainan oleh Cindy
dan aku sebelumnya gak tau kalau Haby suka.”“iyaa, gak
seharusnya juga kamu bilang kejelekan orang kan ? terus gmana Habynya ?” Tanya
Loni lagi. “ yaa dia marah. Dan tinggalin aku sendiri di taman. Aku gak pernah
liat Haby marah kayak gitu. Aku cemas tapi dia pergi aja langsung pulang. Aku sempat
nyamperin dia ke rumahnya. Tapi satpamnya bilang kalau Haby lagi private dan
gak bisa di ganggu. Jadi aku bingung harus ngapain “ jelasku dengan hati sedih.“yaudah.
Biarin dia sendiri dulu. Besok kita liat reaksi Haby aja.” Hibur loni.“yadeh Lon, makasih
ya. Kamu mau kemana habis ini ?”“kayaknya
langsung pulang deh. Tadi aku lagi di perpustakaan dekat sekolah. Kamu ?” Tanya
Loni. “ rencananya mau pulang juga. Bareng aja yuk ? hehe aku nebeng ya.
Mobilku lagi di pake kak Gilang ” rayuku. “yadeh, dasar licik kamu lan. Lani...
lani.
Ih gemes aku” sambil mencubit pipiku yang chabby.
***Paginya, di
sekolah aku dan yang lainnya menghampiri Haby di kantin. “ hai by, kok duluan
aja sih ? “ Tanya Loni. Aku tak berani menyapa Haby. Ketika melihatnya saja,
tatapannya ke aku seperti tak senang. Aku takut menyapa, nanti Haby marah dan
membentak aku di depan teman – teman yang lain.
“oh ? nggak. Tadi keliatannya kalian sibuk, ya
aku duluan aja. Takut ganggu kalian.” Jawabnya sinis sambil menatap aku dengan
tatapan tak senang“nggak kok by, kita tadi malah cariin
kamu.” Jawab Rayan. Tiba – tiba Cindy lewat
di sampingku. Kondisiku pada saat itu sedang berdiri di sebelah Rayan.
Dan Cindy dengan ganknya menyenggolku dan jatuh. Rayan menolongku untuk
berdiri. Aku tak terima, aku tau kalau Cindy sengaja. “eh Cin, kamu punya mata nggak sih ? nggak liat apa ada orang di depan kamu.” Dengan sedikit membentak.“maaf Lani. Aku gak
liat tuh”dengan sombong Cindy menjawab
“ mata kamu tarok dmana ? di kaki ? “ dengan nada tinggi.
Melihat aku membentak Cindy, Haby marah padaku. “ kamu yang gak punya mata Lan,
kenapa berdiri di jalan gitu. Kan disana tempat
orang lalu lalang. Salah kamu dong,
kenapa malah nyalahin Cindy.” Membentak Haby membela Cindy. Kami pun heran,
kenapa tiba – tiba Haby tidak kompak dengan aku dan yang lainnya.
“nah, bener
kan ? kamu yang salah bukan aku” kata Cindy. Aku lebih memilih mengalah dan
meminta maaf kepada Cindy sesuai permintaan Haby dan bukan berarti aku lemah,
hanya saja aku tak mau memperpanjang masalah. Tapi setelah itu haby pergi tanpa pamit padaku
dan teman yang lain. “ Lan,kenapa sama Haby ya ? kok dia belain Cindy dari
pada kamu ?” Tanya Rayan bingung. Kemudian Loni menceritakan semuanya. Mereka
sepakat membantu aku untuk kembali berbaikan dengan Haby.
Sepulang
sekolah, aku minta izin kepada Loni dan Rayan untuk pulang lebih awal dari
mereka. Aku menjelaskan maksudku bahwa ingin ke rumah Haby dan mereka mengerti.
Ketika sampai di rumah Haby, satpamnya bilang kalau Haby belum pulang. Aku
kaget, tidak biasanya haby pulang telat. Biasanya Haby selalu pulang lebih awal
dan kalau ingin pergi keluar Haby pulang dulu untuk pamit. Tapi kenapa sekarang
tidak seperti biasa ?‘ kemana haby ?’ Tanya ku sendiri.
Ketika aku berjalan ke arah taman kota. Aku melihat seseorang yang mirip dengan
Haby. Orang itu dengan seorang cewek tapi wajahnya tak jelas. Aku putuskan
untuk terus mengikuti orang tersebut. Semakin dekat aku melihatnya, ternyata
itu Haby. Aku kaget setengahmati. ‘ yaa
ampun, itu Haby. Dengan siapa dia disana ? ‘ batinku. Aku terus
mengikutinya dan cewek itu adalah Cindy. Astaga ! kenapa bisa ? aku benar –
benar kaget.
“ Haby ?!”
sapa ku karena masih tak yakin. “ eh ? ngapain kamu disini ?” Tanya Haby kaget.“oh, aku cuma
lewat saja. Kamu ngapain disni ? “ Tanya
ku. Tapi Haby malah melirik Cindy, sepertinya Cindy memberi kode tak senang
akan kehadiranku.“oh, aku cuma
duduk aja. Yaudah, mending kamu pergi deh kalau gak ada perlu sama aku.” Dengan
nada tinggi. Aku kaget, kenapa Haby benar – benar berubah seperti ini. Aku
terpaksa pergi dari Taman itu, tapi tidak benar-benar pergi. Aku mengikuti
mereka dan mengintai mereka. Aku penasaran, apa yang sebenarnya yang di lakukan
Haby di tempat ini.Lama aku
melihati mereka, dan ternyata Haby menyatakan Perasaannya kepada Cindy. “Cindy,
apa kamu mau jadi pacar aku?” Tanya Haby. Cindy tentu kaget. “ eh … oh … mau
deh “ Cindy menjawab dengan sikap cuek, sambil melengah. Tapi Haby belum puas
dengan sikap Cindy. Haby mengulang kembali pertanyaannya. Dan Cindy lebih
menampakan sikap manisnya yang menggoda. Akhirnya hari itu mereka resmi
pacaran.***Di sekolah,
aku menceritakan kepada Loni dan Rayan. Mereka tak percaya, tapi aku terus
meyakinkan mereka dan melihatkan buktinya. Saat pulang sekolah, mereka pulang
berdua. “wah, kok pulang bareng mereka ? Haby kan tau kamu tu musuhan sama Cindy.
Kok malah mereka temenan gitu ya ?” Tanya rayan penasaran. “ nah bener kan apa
kata aku. Kalian sih gak percaya. Gimana ni ?” Tanya ku ke mereka berdua.“apanya yang
gimana ?” Tanya Rayan berlaku bego. “ih, Rayan ! serius nih.” Kataku pada Rayan. Lalu kami berencana
mengikutin mereka. Selama hamper 1 bulan kami bertiga terus mengawasi mereka.
Salah satu teman Cindy melihat aku dan teman – teman mengikuti mereka dan teman
Cindy tersebut menceritakan semua yang kami lakukan. Cindy langsung memberi
tahu Haby tentang semua itu. Haby menghampri kami dan marah serta membentak,
terutama aku.“aku tau
kamu tak suka dengan Cindy. Tapi tolong jangan bersikap seperti ini. Cindy
orang baik. Bukan seperti yang kamu ceritakan.” Dengan tatapan yang sungguh
membuatku sedih. Tak pernah sekalipun Haby bersikap seperti itu. Aku hanya diam
terpaku ketika mereka berdua meninggalkan aku,Loni dan Rayan.Loni dan
Rayan mencoba menghiburku. Mereka mau membantuku agar Haby bersikap seperti
dulu lagi kepada kami, terutama aku. Setelah kejadian itu, aku dan 2 sahabatku
tidak pernah mengikuti dan mengintai mereka. Suatu hari, aku melihat Haby
tampak murung. Aku menghampirinya dan bertanya “ Haby, kenapa murung ? nggak ke kantin bareng Cindy lagi ?”
Tanya ku sambil duduk di depannya. Dia menatapku tajam. Aku tau tatapan itu,
tandanya ia tak mau di ganggu. Akupun pergi keluar dan menceritakan hal itu
kepada Rayan dan Loni. Kami bertiga sepakat untuk mengintai mereka kembali.
Saat kami mengikuti Haby, ia tak pulang bersama Cindy. Tapi sendiri dan
langsung menuju rumah. Aku meminta Rayan untuk mencari tau keberadaan Cindy dan
mengintai Cindy.“Lon,Lan. Cindy
pergi sama Andreaz !” kata Rayan.
“HAH ?!?”seru
aku dan Loni serempak. Aku bertanya “ Ngapain aja mereka ?”. “ mereka kayak
orang pacaran lan. Aneh ya” Kata Rayan lagi. Akhirnya kami
bertiga menyelidiki. Dan ternyata benar. Haby murung karena itu. ‘hah ? gara-gara itu aja haby murung kayak
gitu. Gak masuk akal’ pikirku. Dan kami bertiga memutuskan untuk menanyakan
hal itu kepada Haby. Kami bertiga menghampiri Haby yang duduk di bangku sudut
kantin.
“Hai, by !”
sapa Rayan. Kami duduk dan bergabung bersama Haby. “ kenapa kamu murung by ?”
Tanya Loni. Haby masih diam tidak menjawab sepatah katapun. “Haby !” seruku
padanya sambil mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahnya dan ia pun kaget. “
lhoo ? sejak kapan kalian disini ?” tanyanya bingung. “barusan by, kamu kenapa
sih ? berubah gitu ? dan jarang main sama kita-kita lagi ? “ Tanya Loni.“maaf teman
– teman. Aku begini karena termakan rayuan Cindy. Aku begitu bodoh bisa
menyukainya. Dan Lani. Maafkan aku ya ? aku emosi saat kamu
ceritakan tentang Cindy.” Jelasnya.
“tidak apa.
Tapi jika kamu memang menyukai seseorang, lihat dulu tetek
bengeknya. Cari cewek yang baik-baik ya. Biar nggak jerumusin kamu.” Saranku. Dan Haby menerima semuanya. Kami pun
akur seperti semula.
***Sepulang
sekolah, Loni memutuskan pulang lebih awal. “ guys. Aku duluan ya? Mau pergi
bentar. Ok ok ?” pamit Loni sambil berlari – lari kecil.“iyaa. Hati
– hati ! mau kemana tu anak ?” Tanya Haby. Kami pun pergi ke sebuah café tempat biasa nongkrong berempat.
Senang rasanya bisa seperti ini. “ mau pesan apa bapak dan ibuk?” Tanya Haby.
Keliahatannya haby begitu senang setelah bisa melupakan Cindy yang telah
membuatnya hamper celaka.“aku sih
terserah yang nanyain aja. Kamu Ray ?” Tanya ku pada Rayan. Rayan yang sedari
tadi sibuk dengan Hp nya. “ woy, pak !” tegur Haby sambil Memukul meja , sampai Rayan pun terkejut.“ woy !
kenapa ? Ada apa ?” tanyanya dengan wajah cemas. “ Hahah. nggak ada apa Ray. Kamu tu sibuk banget deh ? ada apasih ? “ Tanya
ku“ gak ada.
Tadi lagi asyik aja main gamenya.” Jawabnya. Setelah kami selesai makan, aku pulang diantar oleh Rayan
karena rumah aku dan dia searah sementara rumah Haby berlawanan arah denganku.
“makasih ya ray. Ongkosnya berapa nih ? haha “ canda ku. Rayan terlihat manyun.
“ ih, nggak perlu. Gratis kok. “ jawabnya kesal.“ ya sudah.
Aku pulang dulu ya tulang. Haha “ ledeknya sambil pergi dari hadapanku.Didalam
rumah, aku langsung menuju kamar tuk menganti baju. ‘Drrt !’From : LoniLan, kerumah
aku sekarang ya ? cepat !
Aku langsung
pergi ke rumah Loni saat itu juga. Di tengah perjalanan, aku mengendarai motor
matik dengan kecepatan diatas standar karena cemas dengan Loni. Awalnya sepeda
motor itu baik – baik saja. Tetapi aku merasakaan sesuatu keganjalan dengan
motor itu. “Lho, kenapa sama rem nya ?” motor itu tidak terkendalikan olehku. Seketika
motor itu menabrak tiang listrik dan aku terpental sejauh 5 meter. Benar – benar tak menyangka
sama sekali kecelakaan ini terjadi padaku. Tak ada orang dijalanan itu. Aku
berusaha bangun sendiri. Tapi setelah berhasil beridiri sempurna, sebuah mobil
avanza menyenggolku dan akupun terlempar ke sisi tepi jalan dan kepalaku
mengenai batu besar.***“Dok, gimana
keadaan Lani ? dia baik – baik saja kan ?” Tanya Tante Silvy,
mama aku
“ibuk yang
sabar dan tabah ya.” Kata dokter Andi
yang menanganiku.“kenapa
dengan anak saya dok ? dia baik – baik sajakan ? bagaimana kondisinya sekarang?
Boleh saya melihatnya dok ?” desak tante Silvy.“tan, sabar.
Biarkan Dokter menjelaskannya” kata
Loni.“Ibuk, Lani mengalami
pendarahan yang cukup parah. Di bagian kepala karena benturan yang keras dan di
bagian punggungnya karena badannya yang terlempar mungkin sekitar 4 atau 5
meter. Kondisinya kritis. Harapan tuk sembuh mungkin 25 %. Saya takut ia tak
terselamatkan.” Jelas dokter. Tapi mamaku memohon kepada dokter tuk melakukan
apa saja asalkan aku selamat.
***“gimana lan ? udah
baikan ? enak gak di suntik ?” goda Haby. Kondisi aku sudah agak pulih. Tapi
aku tidak dibolehkan untuk bergerak. Aku senang, Karena orang yang aku sayangi
berada disini. “ Haby, bisa kamu panggilkan Loni ?” pintaku.
“bisa.
Sebentar ya. “ sekitar 5 menit, Loni masuk dan aku menyerahkan sepucuk surat. “ Lon, aku mohon jika nanti
aku benar – benar tidur untuk selamanya. Bacalah surat ini di depan keluargaku
dan teman – teman. Terutama haby. “ pintaku sendiri. Aku merasa hidupku tak
lama lagi. Entah mengapa sakit di bagian kepala dan punggung ini semakin
menjadi jadi.“Aduuh !!
sakiit !”rintisku.“kamu tidak
apa-apa Lan ?” Tanya Loni.
“aku baik –
baik saja, tapi punggung dan kepalaku benar – benar sakit. Rasanya seperti
dikuliti. Sungguh sakit sekali. Aku tak kuat Lon. “ sambil meneteskan air mata.
Loni segera memanggilkan dokter. Dan dokter segera memeriksa tubuhku. Tapi
semakin lama menahan sakit. Aku semakin lemah dan tak berdaya lagi. Nafasku
tersenggal – senggal. Dokter terus mencoba membuat aku selamat dan sembuh. Tapi
tuhan tak mengizinkan aku tuk hidup lebih lama lagi bersama orang yang aku
sayangi.“Buk silvy.
Maafkan saya. “ kata dokter.“bagaimana
anak saya ?” Tanya mamaku. “ lani tak bisa saya
selamatkan” ucap dokter itu lemah. Mama sungguh kaget. ‘tidak mungkin, dia putriku satu – satunya. Tidak’ teriak mama
sambil bercucuran air mata. Teman-temanku pun begitu, Loni tak lupa
menyampaikan pesanku. Ia segera membacakan surat itu di depan semuanya di dalam
ruanganku.
Untuk semua,Mama, Lani sayang sama
mama sama kakak Gilang. Maafin lani selama ini udah nyusahin mama. Mama jangan
sibuk – sibuk lagi ya. Nanti kak gilang sendirian di rumah ma. Lani,
sempat bermimpi kalau Lani bakal nyusulin papa ke surge ma. Tapi Lani
takut ceritainnya ke mama. Kak Gilang tau kok ma. Tanya aja deh …
“benar Gilang
?” Tanya mama. “ iya ma” jawab kak Gilang… tapi Lani takut kalau
mimpi itu menjadi kenyataan, Lani belum mau nyusulin papa. Lani
masih mau nemenin mama dan bahagiain mama sama kak Gilang. Tapi kalau benar
jadi kenyataan, mama jangan sedih ya ? Lani masih ada
dihati mama dan kak Gilang. Lani sayang mama
dan kak Gilang. Kak, jagain mama baik – baik ya kalau Lani
beneran pergi nanti.
Untuk HLLR,Lani belum cerita mimpi itu ya? Maaf ya temen –
temen,Lani juga sayang sama kalian semua. Makasih udah
bikin hari – hari Lani lebih berwarna setelah kepergian papa. Kalian
sungguh berarti di hati Lani. Rayan, jangan keseringan main game lagi ya.
Loni, buku – buku yang aku pinjem ke kamu masih ada di kamar aku, hehe belom
sempat balikin. Buat Haby. By, aku lebih perhatian ke kamu karena udah lama aku
nyimpen rasa. Maafin aku, aku takut nanti perasaan ini buat persahabatan kita
berantakan. Tapi lebih baik aku menyimpan perasaan ini. Haby, jangan salah
pilih cewek lagi ya. Jangan pilih cewek kayak Cindy. Aku sayang kalian semua.
“hah ? jadi
Lani suka sama kamu by ?” Tanya Rayan kaget.
“aku gak
tau. Kalau aku tau, mungkn aku gak bakal suka sama Cindy,” sesal Haby.“ya sudah.
Semua udah berlalu. Sekarang kita harus tabah menerimanya. Tante jangan terlalu
bersedih, yakinlah Lani tidak meninggalkan kita, dia masih ada di hati
kita semua.” Semangat Loni pada mamaku.
Setelah
kepergianku, Haby tidak pernah lagi suka sama seseorang. Ia ternyata juga punya
perasaan yang sama denganku. Sampai suatu saat setelah tamat SMA, Haby bertemu
dengan seseorang yang begitu mirip denganku. Tapi hanya saja cewek itu asli
Belanda. Awalnya Haby tidak mau menyukai gadis itu, tapi akhirnya lama mereka
berteman keduanya sama – sama menyukai.“ Lani,hatiku
akan tetap utnukmu. Meski kini aku menemukan gadis yang mirip denganmu. Aku
harap aku bisa mencintainya seperti denganmu. Tenanglah kau disana Cinta”
ucapnya sambil menitikan air mata di depan makamku
Komentar
Posting Komentar